Sejak saya berhenti kerja tiga tahun lalu, hari-hari saya jadi lebih banyak di rumah. Awalnya nyaman-nyaman saja. Tapi lama-lama, saya sadar ada banyak hal kecil soal perangkat rumah yang bikin saya bingung, dan ternyata bukan cuma saya yang mengalaminya. Waktu ngobrol di posyandu lansia atau di grup WhatsApp alumni, pertanyaannya mirip-mirip terus. Jadi saya coba rangkum di sini, berdasarkan apa yang saya alami sendiri dan jawaban dari teman-teman yang sudah lebih dulu "melek".
"Listrik di rumah saya sering jeglek, apa karena alatnya kebanyakan?"
Ini pertanyaan nomor satu yang paling sering muncul. Jawabannya: belum tentu alatnya kebanyakan, tapi sering kali karena daya listrik rumah sudah tidak cocok lagi dengan pemakaian sekarang. Dulu waktu anak-anak masih kecil, isi rumah cuma kulkas, TV, dan beberapa lampu. Sekarang? Ada rice cooker, dispenser panas-dingin, setrika, pompa air, plus kipas atau AC. Kalau semua nyala bareng, MCB di meteran langsung ngambek.
Cara paling gampang mengeceknya, lihat angka di meteran. Kalau tertulis 900 VA atau 1300 VA, itu batas daya yang tersedia. Setiap alat punya angka watt. Kulkas biasanya 100-an watt, setrika bisa 300–400 watt, dispenser sekitar 350 watt. Jumlahkan saja pemakaian yang biasanya nyala bersamaan. Kalau sudah mendekati batas, ya wajar jeglek.
Solusinya bukan langsung naik daya, karena biaya bulanannya ikut naik. Coba dulu atur pemakaian: jangan nyalakan setrika sambil dispenser memanaskan air. Kalau memang sering, baru pertimbangkan tambah daya ke PLN. Prosesnya sekarang gampang, bisa lewat aplikasi.
Kalau alat lama, apakah tetap aman dipakai?
Ini yang bikin saya agak was-was. Alat listrik yang sudah belasan tahun umurnya itu kabelnya bisa getas, isolasinya retak, dan diam-diam berbahaya. Saya pernah punya setrika jadul yang kabelnya mulai terkelupas di dekat colokan. Untung cepat sadar. Kalau ada alat yang kabelnya sudah keras, panas berlebih saat dipakai, atau colokannya longgar, lebih baik diganti. Tidak perlu mahal, yang penting ada label SNI dan garansi resmi.
"Saya tidak paham smartphone, apa masih perlu belajar?"
Jawaban singkatnya: perlu, tapi tidak harus semua. Saya dulu juga menganggap smartphone itu cuma buat anak muda. Ternyata sekarang banyak hal yang justru lebih mudah lewat HP. Bayar listrik, cek saldo pensiun, video call cucu, pesan ojek kalau mau ke pasar — semua bisa dari satu layar.
Saran saya, jangan belajar semuanya sekaligus. Cukup kuasai lima hal dulu: menelepon, WhatsApp, kamera, aplikasi bank, dan Google Maps. Itu saja sudah cukup untuk 90% kebutuhan sehari-hari. Sisanya nanti mengalir sendiri.
"Yang penting jangan takut salah pencet. HP itu tidak akan meledak karena salah tekan. Paling cuma bingung sebentar, lalu bisa diulang."
Kalau ada cucu atau anak yang sabar, minta diajari sambil dicatat di buku. Saya sendiri menulis langkah-langkah di buku tulis kecil: cara video call, cara kirim foto. Terdengar kuno, tapi sangat menolong waktu lupa.
"Alat rumah tangga mana yang benar-benar berguna, bukan cuma gaya-gayaan?"
Pertanyaan ini biasanya muncul setelah pensiunan tergoda belanja online. Iklan di HP memang pintar, tahu saja apa yang kita lihat. Tapi tidak semua alat yang lucu itu berguna. Dari pengalaman saya dan teman-teman, ini yang benar-benar terpakai setiap hari:
- Rice cooker sederhana — bukan yang multifungsi 12 tombol. Yang penting menanak nasi dengan benar dan mudah dibersihkan.
- Kipas angin berdiri — lebih hemat listrik daripada AC, dan tidak bikin tenggorokan kering.
- Lampu LED — ganti semua lampu lama. Tagihan listrik biasanya langsung turun, dan lampunya tidak panas.
- Termos listrik atau dispenser air — bikin kita minum lebih teratur, apalagi kalau sedang minum obat rutin.
- Radio atau speaker kecil — untuk menemani pagi. Kadang lebih menenangkan daripada TV yang isinya berita terus.
Sementara itu, beberapa alat yang menurut saya kurang berguna untuk pensiunan: robot vacuum (sering nyangkut di kabel), air fryer besar (porsinya kebesaran untuk dua orang), dan jam pintar yang harus di-charge tiap hari. Bukan berarti jelek, hanya saja belum tentu cocok dengan gaya hidup kita.
"Bagaimana caranya supaya tidak ketipu saat belanja online?"
Ini penting, karena saya sendiri pernah hampir ketipu. Modusnya macam-macam, tapi polanya mirip: harga terlalu murah, minta transfer ke rekening pribadi, atau minta data OTP. Tiga hal itu sudah cukup jadi lampu merah.
Beberapa kebiasaan yang sekarang saya pegang:
- Belanja hanya di aplikasi resmi yang sudah jelas, bukan dari link yang dikirim orang tak dikenal.
- Baca ulasan pembeli lain, terutama yang memberi bintang 1 sampai 3. Di situ biasanya jujur.
- Jangan pernah kasih kode OTP ke siapa pun, termasuk yang mengaku pihak bank.
- Kalau ragu, tanya dulu ke anak atau cucu. Tidak ada salahnya bertanya.
Kalau sudah terlanjur ketipu, jangan diam. Laporkan ke bank dan ke aplikasinya. Kadang uangnya masih bisa diblokir kalau cepat. Yang paling penting: jangan malu. Pelaku yang salah, bukan kita.
Sedikit Cerita Penutup
Saya menulis ini bukan karena saya ahli. Justru sebaliknya, saya banyak salah dan banyak lupa. Tapi dari situ saya belajar satu hal: teknologi rumahan itu tidak perlu ditakuti, dan tidak perlu dikejar semua. Ambil yang benar-benar membantu, tinggalkan yang cuma bikin pusing.
Kalau ada pertanyaan lain yang sering muncul di lingkungan kamu, coba tulis di buku atau catatan HP. Siapa tahu jawabannya bisa menolong teman lain yang juga sedang menyesuaikan diri dengan hidup yang lebih tenang di rumah. Karena pada akhirnya, masa pensiun itu waktunya menikmati, bukan waktunya bingung sendiri.